Rantepao Semrawut, Perlu Penataan Guna Majukan Toraja Utara sebagai DTW

oleh

indonesiaexpres.com |  KUPANG 29/3/2019I, Toraja khususnya Kabupaten Toraja Utara, yang selama ini dikenal sebagai DTW (Daerah Tujuan Wisata) terutama di Sulsel, harus dikelola dengan baik.

Setidaknya, Pemda Torut di bawah pemerintahan Bupati Kala’tiku Paembonan, melakukan upaya positif guna memajukan pariwisata di daerahnya.

Barometernya dimulai dari Rantepao sebagai ibukota kabupaten. Perlu penataan kota Rantepao mengingat kondisinya kini semrawut. Kesemrawutan Rantepao ini diakui warga Toraja sendiri terutama di luar Toraja.

“Saya melihat Rantepao sudah semrawut dan kotor dengan sampah. Saya masih ingat tahun-tahun 90an Rantepao bagus sekali. Sekarang sudah semrawut penataannya, tidak jelas,” ujar Agus Ba’ka’, SH, MH. Jaksa yang baru bertugas 4 bulan di Kupang ini, menyinggung soal penanganan Sitor (Taksi Motor).

“Untuk penanganan sitor harus dibuatkan aturan, ketentuannya. Jangan semrawut seperti itu,” ungkap Agus ketika ditemui di ruang kerjanya, di kantor Kejaksaan Tinggi NTT, Kupang, Rabu lalu (27/3).
Bertemu Agus, awak media ini ditemani Robert Kadang, jurnalis senior Timex (Timor Express).

Soal penataan, kata Agus, harus sesuai master plan yang ada. Bagaimana grand-desainnya menyangkut RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah). “Prinsipnya, Rantepao ditata baik. Pemda, DPRD dan Masyarakat harus bersinergi. Misalnya, masyarakat jangan membuang sampah sembarangan,” tutur Koordinator Intelijen Kejati NTT ini.

Dia menyarankan Lapangan Bakti yang di tengah kota, cukup jadi fasilitas olahraga. “Tata kembali dan kembalikan fungsinya, Jangan dijadikan tempat kuliner, tidak cocok. Biar itu jadi fasol,” ketus mantan pemain GASTOR (Gabungan Sepakbola Toraja) era 90an ini. Konkritnya, tambah Agus, Rantepao bagaimana ditata rapi dan semuanya bersih. “Termasuk lalulintas ditata,” timpalnya.

Putra Toraja asal Tikala ini menyarankan Pemda Torut agar mencari tempat di bantaran aliran Sungai Sa’dan untuk kuliner. “Bantaran sungai itu ditata sedemikian rupa sehingga bisa diciptakan wisata kuliner,” bebernya.

Agus juga mengusulkan Pemda membuat ruang terbuka, semacam Alun-alun di Jawa. “Karena orang yang datang mau menikmati Rantepao pada waktu sore dan malam,” jelasnya.

(Anto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *