Bangsit Asrama Papua Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya

oleh

perkembangan situasi Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Jl. Kalasan No. 10 Kel. Pacar Keling Kec. Tambaksari Kota Surabaya pasca pengembalian ke-43 orang Mahasiwa Papua penghuni Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Kota Surabaya yang ditangkap oleh Polrestabes Surabaya atas dugaan pengrusakan tiang bendera dan dibuangnya Bendera Merah Putih di selokan depan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Kota Surabaya pada hari Rabu tanggal 21 Agustus 2019 s.d pukul 13.00 WIB

B. Rangkaian Kegiatan sbb :

    1. Pukul 10.30 WIB, bertempat di Warung Soto Ayam Pak Joni depan Asrama Kamasan III Surabaya sedang berkumpul 25 orang wartawan, Apkam dan Muspika Tambaksari Surabaya untuk menyambut, mengamankan dan meliput rencana kegiatan kunjungan kerja Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus.

    2. Pukul 10.45 WIB, melaksanakan wawancara/elisitasi dengan Sdr. Yuda (Wartawan RCTI) diperoleh keterangan bahwa sekira pukul 10.00 WIB, 3 orang Wartawan CNN berusaha mengambil gambar di depan Asrama Kamasan III Surabaya, namun 1 orang perwakilan mahasiswa penghuni asrama keluar dan menegur serta melarang wartawan untuk mengambil gambar dan meliput Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya.

Pejabat yang hadir antara lain :

    a. AKBP Sudamiran (Kasatreskrim Polrestabes Surabaya).

    b. Drs. Ridwan Mubarun (Camat Tambaksari).

  3. Pukul 11.30 WIB, rombongan Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus tiba di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya menggunakan kendaraan Toyota Alphard Nopol L 1200 JO dengan pengawalan dari Polda Jatim, adapun daftar rombongan yaitu :

   a. Bpk. Fadli Zon (Wakil Ketua DPR / Ketua Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus).

   b. Bpk. Michael Watimena (Wakil Ketua Komisi 4 DPR RI Fraksi Demokrat).

   c. Bpk. Willem Wandik (Anggota Komisi 5 DPR RI Fraksi Demokrat / Anggota Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus).

  d. Bpk. Steven Abraham (Anggota Komisi 5 DPR RI Fraksi Gerindra / Anggota Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus).

   e. Bpk. Sulaiman Hamzah (Anggota Komisi 4 DPR RI Fraksi Nasdem / Anggota Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus).

   f. Bpk. Jimmy Ijie (Anggota Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus dari PDI-P).

  4. Pukul 11.35 WIB, Bpk. Michael Watimena dan Bpk. Willem Wandik turun dari kendaraan, selanjutnya menuju Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya, namun pintu pagar tidak dibuka dan terdapat poster yang bertuliskan “Siapapun yang datang kami tolak” serta Bpk. Michael Watimena dan Bpk. Willem Wandik tidak mendapatkan respon dari pihak penghuni asrama sehingga perwakilan Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus berada di luar Asrama.

  1. Pukul 11.40 WIB, Press Realese oleh Bpk. Michael Watimena dan Bpk. Willem Wandik yang intinya :

   a. Bahwa setelah dari Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya, Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus akan bertemu dengan Gubernur Jatim dan Walikota Surabaya dalam rangka klarifikasi serta menanyakan sejauh mana Pemprop Jatim dan Pemkot Surabaya menyikapi dan mengkomunikasikannya permasalahan tersebut.

   b. Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus akan menangani permasalahan ini, terkait pemberitaan di Medsos adanya tindakan refrensif aparat kita harus tau secara langsung informasi tersebut dan perlu adanya investigasi.

   c. Mengenai ucapan – ucapan yang tidak pantas yang dilakukan oleh oknum tertentu seharusnya itu tidak boleh baik dimanapun itu.

   d. Perwakilan dari anggota DPR Papua dan Papua Barat akan menyelesaikan permasalahan ini dengan cara adat.

   e. Meminta aparat keamanan untuk mengusut tuntas pelaku pengrusakan lambang negara Bendera Merah Putih yang menjadi pemicu terjadinya konflik saat ini, karena bisa saja ada orang-orang yang memanfaatkan situasi dan kondisi untuk memperkeruh kondisifitas bangsa agar tidak kondusif.

  6. Pukul 11.45 WIB, Press Realease oleh Bpk. Fadli Zon yang intinya :

   a. Bahwa kunjungan saat ini sengaja diawali dari Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya dengan mengajak perwakilan DPR RI asal Papua dimana tujuan kunjungan kali ini untuk mengetahui secara langsung dari Mahasiswa Papua di Surabaya terkait informasi yang beredar di media masalah pengrusakan Bendera Merah Putih, tindakan represif aparat keamanan yang terjadi di Surabaya dan Malang sehingga berdampak besar di Prov. Papua.

   b. Karena kedatangan kami saat ini tidak diterima oleh penghuni Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya, maka kami akan menuju Gedung Negara Grahadi untuk menemui Pemprov. Jatim guna mengetahui sejauh mana penanganan permasalahan Mahasiswa Papua di Jatim dan mengetahui langkah-langkah yang sudah dilakukan sebab perwakilan rakyat mempunyai tugas untuk mengetahui hal tersebut.

   c. DPR RI dan Pemerintah RI menginginkan agar secepatnya permaslahan konflik di Papua selesai dan berupaya semaksimal mungkin melakukan tindakan-tindakan persuasif guna menciptakan kondisifitas negara yang aman.

  7. Pukul 11.50 WIB, rangkaian kegiatan selesai, selanjutnya rombongan Tim Pemantau DPR RI terhadap Pelaksanaan Otonomi Khusus meninggalkan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya menuju Gedung Negara Grahadi.

C. Bahwa Mahasiswa Papua saat ini yang berada di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya berjumlah 14 orang dan memilih diam di dalam, berdo’a serta mengikuti perkembangan yang terjadi di Prov. Papua.

D. Pagar Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya dipasang penutup menggunakan baner sehingga tertutup dan aktivitas penghuni asrama tidak nampak dari luar dan poster yang bertuliskan “Siapapun yang datang kami tolak” tetap terpasang di pagar asrama.

Tim “IP”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *