Mengenal Pahlawan – Pahlawan Nasional Gagah Berani Asal Papua

oleh

Rabu, 21-08-2019
TSM-Provinsi Papua dan Papua Barat merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terletak paling Timur Indonesia. Sejarah mencatat untuk menjadi Papua bagian dari NKRI bukanlah perkara yang mudah.

Penuh darah dan perjuangan dari putra-putra asli Papua untuk menyatukan Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi. Berkat jasa dan perjuangannya mereka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Berikut ini putra-putra asli Papua yang menjadi pahlawan nasional:

  1. Frans Kaisiepo

Frans lahir di Wardo, Biak, Papua pada 10 Oktober 1921. Frans terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Dia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti tempat yang panas.

Sejarah juga mencatat tiga hari menjelang Proklamasi, tepatnya 14 Agustus 1945, Kaisiepo dan beberapa rekan seperjuangannya memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Kampung Harapan Jayapura. Beberapa hari sesudah Proklamasi, atau pada 31 Agustus 1945, Kaisiepo dan rekan-rekannya melaksanakan upacara dengan pengibaran bendera Merah Putih dan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Selain itu, Frans Kasiepo juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua antara tahun 1964-1973. Pada 10 April 1979 Frans meninggal dunia, dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak Selain itu namanya juga di abadikan di salah satu kapal perang jenis korvet kelas Diponegoro yaitu KRI Frans Kaisiepo-368.

Berdasarkan Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993, nama Frans Kaisiepo selanjutnya dikenang sebagai satu dari deretan Pahlawan Nasional Indonesia disertai penganugrahan Bintang Maha Putera Adi Pradana Kelas Dua.

Untuk menghargai jasa-jasanya, pada tanggal 19 Desember 2016, Frans Kaisiepo diabadikan dalam uang kertas Rupiah baru pada pecahan Rp. 10.000.

  1. Johannes Abraham Dimara

Selanjutnya, ada Mayor TNI Johannes Abraham Dimara putra asli Papua yang ditetapkan sebagai Pahlawan. Johannes lahir di Korem, Biak Utara, Papua, 16 April 1916.

Pada tahun 1946, dia ikut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di Namlea, pulau Buru, Maluku. Dia turut memperjuangkan pengembalian wilayah Irian Barat ke tangan Republik Indonesia. Pada tahun 1950, dia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat).

Johannes menjadi anggota TNI dan melakukan infiltrasi pada tahun 1954 yang menyebabkan dia ditangkap oleh tentara Kerajaan Belanda dan dibuang ke Digul, hingga akhirnya dibebaskan tahun 1960.

Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora (menggabungkan wilayah Papua bagian barat), dia menjadi contoh sosok orang muda Papua dan bersama Bung Karno ikut menyerukan Trikora di Yogyakarta. Dia juga turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, diadakanlah Perjanjian New York.

Johannes menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu akhirnya mengharuskan pemerintah Kerajaan Belanda untuk bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan pemerintah Republik Indonesia. Maka mulai dari saat itu wilayah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Johanes Abraham Dimara meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2000. Dia mendapat tanda penghargaan dari pemerintah berupa Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu dan Satyalancana Bhakti. Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 113/TK/2011.

  1. Silas Papare

Putra asli Papua lainnya yang ditetapkan sebagai pahlawan yakni Silas Papare. Silas lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918, dia adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Dia sangat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua sehingga, dia sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda dalam memerangi kolonialisme Belanda dan pada akhirnya dia dipenjarakan di Jayapura karena memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak.

Semasa menjalani masa tahanan di Serui, Papua, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda ke tempat tersebut. Perkenalannya tersebut semakin menambah keyakinan bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia.

Pada bulan Oktober 1949 di Yogyakarta, dia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI. Silas Papare yang ketika itu aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) juga diminta oleh Soekarno menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam New York Agreement yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962, yang mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda perihal Irian Barat. Setelah penyatuan Irian Barat, dia kemudian diangkat menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara).

Untuk mengenang jasa-jasa Silam Papare, namanya diabadikan menjadi salah satu kapal perang jenis korvet kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare dengan nomor lambung 386. Selain itu, dididirkan Monumen Silas Papare di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui.

Sementara di Jayapura, namanya diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro. Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.

  1. Marthen Indey

Marthen Indey lahir di Doromena, Papua pada 14 Maret 1912 merupakan putra Papua yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan Nasional Indonesia berdasar SK Presiden No.077 /TK/ 1993 tgl. 14 September 1993 bersama dengan dua putra Papua lainnya yaitu Frans Kaisiepo dan Silas Papare.

Marthen ini merupakan polisi Belanda yang kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di Digul, salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Saat itu, ia bertugas untuk menjaga para tahanan politik yang secara tidak langsung berhasil menumbuhkan jiwa nasionalismenya dalam pertempuran melawan penjajah.

Pada tahun 1946, Marthen bergabung dengan sebuah organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Saat menjabat sebagai ketua, Marthen dan beberapa kepala suku yang ada di Papua menyampaikan protesnya terhadap pemerintahan Belanda yang berencana memisahkan wilayah Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia. Mengetahui pihaknya membelot, Belanda menangkap Marthen dan membuinya selama tiga tahun di hulu Digul karena pasukan Belanda merasa dikhianati oleh aksinya tersebut.

Belum berhasil merebut Irian Barat untuk disatukan kembali dengan wilayah kesatuan Indonesia, pada tahun 1962 Marthen bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia. Berkat piagam tersebut, Marthen dikirim ke New York untuk melakukan perundingan dengan utusan Belanda tentang pengembalian Irian Barat yang selama ini berada di bawah pemerintahan sementara PBB ke dalam wilayah kesatuan Indonesia.

Akhirnya, dalam perundingan tersebut, Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya. Berkat jasanya, Marthen diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, dia juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun.

Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *