CITRA KEPRIBADIAN PEMIMPIN DALAM KEMASAN BUSANA DAN EKSPRESI GESTURE

oleh

Jakarta – Sering timbul pertanyaan; mengapa seorang pemimpin bisa tampil memukau dan berwibawa? banyak spekulasi jawaban yang muncul, dan kadang aneh serta sama sekali tidak rasional. Yang paling menyesatkan adalah pemikiran bahwa kewibawaan itu muncul karena hal klenik sebagai lelaku sang pemimpin, sehingga memperoleh kewibaawaan secara mistis.

Sebagai contoh kita bisa membahas tokoh pemimpin yang sudah terbukti kewibawaan serta kharismanya, yaitu Presiden RI pertama Bung Karno.
Siapa yang menyangkal bahwa pesona dan kharisma beliau begitu mamukau khalayak, bahkan hingga kinipun, foto-foto beliau menghiasi banyak dinding pemujanya sebagai insipirasi dalam kehidupannya.

Jika kita telaah secara mendalam, kharisma yang dimiliki oleh Bung Karno adalah kharisma by design, yaitu kharisma yang beliau ciptakan sendiri sebagai citra diri yang membentuk kepribadian seorang pemimpin besar. Tidak disangkal pula bahwa Bung Karno adalah Natural Born Leader. Meskipun aura pemimpin sudah ada dalam dirinya sejak muda, namun beliau tahu sekali bagaimana mengemas dirinya dengan perencanaan yang baik dan penerapan konsep rancangan tersebut secara maksimal.

Memang kepandaian seseorang sebagai bobot intelektual, sangat berpengaruh terhadap penampilannya. Sorot mata dan roman muka seorang intelektual akan terlihat begitu memesona orang-orang yang mendengar setiap kata yang diucapkan. Namun ada hal lain yang banyak tidak terpikirkan oleh orang-orang yang ingin mencitrakan dirinya di panggung politik ataupun dalam tatar kepemimpinan, yaitu mengemas diri menjadi kemasan “seorang pemimpin yang berwibawa dan berkharisma”.

Sangat dimengerti jika seorang Soekarno begitu piawai dalam mengemas dirinya menjadi seorang pemimpin yang berkharisma. Pakaian yang dikenakannya selalu dipilih dengan baik dan cermat, sehingga badannya yang tegap terbalut rapi dengan sangat nyaman disandang. Kemudian pengalaman visualnya sebagai seorang arsitek yang begitu paham dan mengerti tentang ilmu proporsi dan prinsip golden section, sehingga mampu menempatkan pakaian tersebut di dirinya dengan proporsi perbandingan panjang baju yang berpengaruh terhadap tampilnya panjang celana yang tertutup baju, kemudian pola potongan baju yang membentuk pinggang serta tinggi belahan leher serta kerah yang tepat dalam memunculkan sebagian leher yang akan terlihat kokoh pada saat berorasi, hingga desain seragam militer yang selalu digunakannya sejak menjadi Presiden, hingga atribut militer yang sangat berpengaruh pada kewibawaannya ketika mengklaim dirinya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Efek visual yang dibangunnya sangat berpengaruh terhadap citra kepribadiannya yang beliau inginkan agar masyarakat percaya terhadap kemampuan beliau act like a great leader.

Tidak hanya baju dan celana, atribut lain seperti peci yang digunakannya pun sesuai dengan perhitungan proporsi wajah beliau. Pemilihan tinggi peci 10-11 merupakan pilihan yang tepat dalam mengangkat bentuk wajahnya, sehingga memunculkan wibawanya. Bahkan tongkat komando yang disandangnyapun didesain dengan cermat, dengan bentuk ukiran ulirnya yang diperkuat dengan pangkal bermaterial logam kuning sehingga material dan penjang tongkat yang selalu digenggamnya mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin.

Yang tidak kalah pentingnya adalah sikap dan bahasa tubuh beliau dalam kesehariannya baik dalam acara formal kenegaraan maupun dalam keadaan santai. Beliau begitu paham dalam bersikap dengan berbagai kalangan. Bahkan pose dalam setiap foto sesi yang dilakukan selalu tampil dengan sempurna. sikap terlatihnyapun terbentuk tatkala wartawan mengambil gambar secara candid, sosok sang pemimpin besar ini tetap terlihat elegan, namun tetap membumi dan dekat dengan rakyat. inilah citra yang dibangun beliau secara logis dan alami, sehingga terlihat sosok yang berwibawa, kharismatik dan alamiah. Tidak tampak dipaksakan atau berlebihan.

Kini banyak pemimpin yang berusaha tampil berwibawa dan berkharisma, namun kehilangan sifat naturalnya. mereka tampil bukan menjadi diri sendiri karena banyak mengikuti gaya dan pola orang yang menjadi panutannya. Sama seperti seorang penyanyi yang mempunyai style tersendiri, sehingga karakter vokal yang unik dan berbeda dengan orang lain lah yang menjadi nilai jualnya sangat berharga. Begitupun seorang pemimpin yang baik, tentunya akan berusaha menjadi diri sendiri, dengan kewibawaan dan kharismanya yang natural, yang dia peroleh melalui perjalanan panjang dan jam terbang tinggi, setelah ia benar-benar mengenal dirinya sendiri.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *